This time, for you


Sudah malam, aku tahu. Lebih baik cepat terlelap karena esok pagi rutinitas akan kembali menyapa dan hidup harus kembali berjalan. Baiklah, hari esok hanyalah segelintir kenyataan yang perlu dihadapi. 
Tidak kurang, tidak lebih.
Begitupun adanya kamu.
Kau seperti setumpuk kenyataan di atas ubun-ubunku: membuatku harus berjalan tegak dan menatap lurus ke depan agar tumpukan itu tidak jatuh berserakan. Entah sejak kapan, kenyataan bersamamu ibarat boneka porselen antik. Secantik apapun, ringkihnya tetap setengah mati.
Bukan inginku untuk menuliskan ribuan alasan lain yang kuharap dapat mengobatimu. Cukup, kau dan aku sudah sama-sama sakit. Tapi aku yakin kau paham: dirimu mungkin tak memerlukan resep lain untuk bangkit berdiri, namun aku membutuhkan ini untuk kembali menjadi diriku sendiri.

Ketahuilah terlebih dulu bahwa rasa ini tak akan padam. Mungkin belum, ya, aku pun tak tahu. Hanya bagaimanapun, ialah bagian dari sel tumbuhan yang kita tanam sejak awal. Bukankah benar, segala sesuatu berasal dari atom-atom kecil yang mengisi ruang dan waktu tempat kita pertama kali menghujamkan hati pada mata satu sama lain?
Namun entah mengapa aku pernah berfirasat bahwa hari ini akan tiba. Saat di mana lautan ganas berhasil menenggelamkan kapalku hingga ke dasar laut, meninggalkanku dengan siluet punggungmu yang menantiku di dermagamu. Di mana kau dan aku sadar bahwa kita kini berbeda, bahkan nyaris sepenuhnya berseberangan dengan konsep ‘kita’ di masa lampau. 
Mungkin gelintiran kalimat yang menusukmu di waktu itu, mungkin juga perasaanku. Apa sebabnya, aku pun tak tahu. Seperti dirimu yang terus meragu: bisakah dua jiwa yang sekian lama bersama menjadi enggan untuk saling bertatap muka?
Tapi aku tahu bahwa hati kita telah sama-sama mengerti. Kita telah menyeberangi persimpangan jalan yang berbeda, yang membuat kau dan aku tak dapat lagi berjalan beriringan. Tak lagi dua tangan yang saling bertaut menemani setiap langkah kita, tak lagi dua pasang lengan yang saling mendekap menjadi tempat singgah di kala gundah. Kini kau ke selatan dan aku ke utara; kita telah berbeda arah. 

Selama ini kita terus bertanya, pada hati dan pikiran, juga mungkin pada mereka yang tak pernah mengerti namun kita paksa untuk merasa: salah siapakah ini? Kerap kali kusalahkan diriku sendiri, tanpa setitik pun inginku untuk kau menyalahkan dirimu. Adakah seorang yang kita sayang akan kita biarkan untuk mendera hatinya sendiri? Tanpa jawab pun aku sudah paham; tak mungkin aku rela.
Jika menginginkan kambing hitam, salahkanlah ia yang tak bernama, yang suatu hari menyadarkanku bahwa berjalan berdampingan membutuhkan lebih dari sekedar rasa sayang. Bahwa menjadi satu bukan berarti meleburkan diri, namun tak lantas bergerak statis seperti kereta api di jalurnya masing-masing. Manusia dapat mengada, namun hati akan selalu merasa. Berbagai strategi telah kita coba, bermacam kompromi sudah kita buat, namun ternyata apa yang sejak awal kita coba untuk pahami, tak selamanya dapat disiasati.
Pada akhirnya kita bermuara pada diri masing-masing, menyadari bahwa arti bersama saat ini tak lagi dapat kita gapai berdua. Sudah cukup, ujarku berat. Kuputuskan untuk melepas, sebelum kita berdua murka dan larut dalam amarah.
Namun barangkali ini bukan sebuah akhir berujung perpisahan yang kekal. Barangkali persimpangan ini hanya jalan untuk kita berputar, untuk kita sama-sama mencari apa yang mungkin hilang dan apa yang sebenarnya telah kita temukan. Barangkali esok akan memberikan kita kesempatan atau justru mengaburkan kita. Atau barangkali kau dan aku akan menjalani takdir masing-masing, untuk akhirnya bertemu kembali di suatu hari yang akan datang nanti.
Barangkali juga kau hanya akan menjadi barangkali.  

Lagi-lagi, kita tak akan pernah tahu.


Seperti burung camar yang terbang bebas tanpa tahu arah tujuan sang angin,




takdir ini, hanya Tuhan dan semesta yang tahu.



Kita hanya ada.




Untuk dua pasang mata yang saling dimengerti, genggaman tangan yang bertaut erat, tetesan air mata yang tak kunjung reda, dan satu rengkuhan hangat yang cukup berbicara; ingatlah selalu mereka, yang menjadi penutup perjalanan kali ini.
and for all things that were, are, and will be.


- ZJA

Comments

Popular posts from this blog

A text from my Mom