This time, for you
Sudah malam, aku tahu. Lebih baik cepat terlelap karena esok pagi rutinitas akan kembali menyapa dan hidup harus kembali berjalan. Baiklah, hari esok hanyalah segelintir kenyataan yang perlu dihadapi. Tidak kurang, tidak lebih. Begitupun adanya kamu. Kau seperti setumpuk kenyataan di atas ubun-ubunku: membuatku harus berjalan tegak dan menatap lurus ke depan agar tumpukan itu tidak jatuh berserakan. Entah sejak kapan, kenyataan bersamamu ibarat boneka porselen antik. Secantik apapun, ringkihnya tetap setengah mati. Bukan inginku untuk menuliskan ribuan alasan lain yang kuharap dapat mengobatimu. Cukup, kau dan aku sudah sama-sama sakit. Tapi aku yakin kau paham: dirimu mungkin tak memerlukan resep lain untuk bangkit berdiri, namun aku membutuhkan ini untuk kembali menjadi diriku sendiri. Ketahuilah terlebih dulu bahwa rasa ini tak akan padam. Mungkin belum, ya, aku pun tak tahu. Hanya bagaimanapun, ialah bagian dari sel tumbuhan yang kita tanam sejak awal. Bukankah...